Mitos atau Fakta : Membaca Di Tempat Gelap Bisa Merusak Mata?
Kalau dari kecil kita sering baca buku sambil tiduran atau sembunyi-sembunyi di kamar dengan lampu redup, pasti pernah kena omel: “Jangan baca di tempat gelap, nanti matanya rusak!” Nah, pertanyaannya, benar begitu atau cuma mitos turun-temurun? Ternyata jawabannya nggak sesederhana “iya” atau “tidak”. Membaca dalam kondisi minim cahaya memang bisa bikin mata terasa lebih cepat capek, tetapi bukan berarti mata langsung rusak permanen. Jadi, jangan buru-buru panik kalau sesekali membaca dengan penerangan yang kurang.
Mitos atau fakta? Mitos: membaca di tempat gelap pasti membuat mata rusak permanen. Sampai saat ini, tidak ada bukti kuat bahwa membaca dalam cahaya redup secara langsung menyebabkan kerusakan permanen pada struktur mata. American Academy of Ophthalmology juga pernah menjelaskan bahwa menggunakan mata dalam kondisi minim cahaya tidak dengan sendirinya merusaknya.
Fakta: mata bisa lebih cepat lelah. Saat pencahayaan kurang, kita cenderung menyipitkan mata, mendekatkan buku, atau berusaha lebih keras untuk melihat tulisan. Akibatnya bisa muncul mata pegal, berair, kering, terasa berat, sakit kepala, atau penglihatan sementara terasa kurang nyaman.
Fakta yang menarik: ada penelitian yang menemukan hubungan antara membaca dalam cahaya redup dan rabun jauh (miopia), terutama pada anak-anak. Sebuah penelitian terhadap 1.400 anak sekolah di India menemukan adanya hubungan antara membaca dalam cahaya redup dan prevalensi miopia. Namun, penelitian seperti ini menunjukkan hubungan, bukan otomatis membuktikan bahwa cahaya redup sendirilah penyebab miopia.
Nah, bagian yang cukup menarik adalah ternyata masalah mata bukan cuma soal “terang atau gelap”. Durasi membaca, jarak mata dengan bahan bacaan, aktivitas jarak dekat, penggunaan gadget, serta seberapa sering seseorang berada di luar ruangan juga ikut diperhatikan dalam penelitian mengenai miopia. Studi lain pada anak-anak bahkan menemukan bahwa paparan cahaya dan aktivitas di luar ruangan berkaitan dengan perkembangan rabun jauh. Jadi, kalau kamu membaca novel satu malam dengan lampu agak redup, bukan berarti besok bangun langsung minus bertambah. Yang lebih masuk akal adalah membuat kondisi membaca senyaman mungkin: gunakan lampu yang cukup, jangan terlalu dekat dengan buku, dan beri mata jeda secara berkala. Untuk aktivitas jarak dekat yang lama, prinsip sederhana seperti melihat jauh sesekali bisa membantu mengurangi rasa lelah pada mata.
Jadi kesimpulannya, “membaca di tempat gelap pasti merusak mata” lebih tepat disebut mitos, tetapi membaca dalam pencahayaan yang buruk memang bukan kebiasaan ideal. Mata bisa lebih cepat lelah dan terasa tidak nyaman. Jadi daripada baca sambil merem-melek di kamar gelap, mending nyalakan lampu yang nyaman—biar bukunya tamat, mata juga tetap santai.